Awan dan Rintik Hujan yang Menyegarkan Jiwa

Jadi sudah berapa lama kita tak bertutur kata dalam laman ini, terakhir kali sepertinya saya menuliskan pesan cinta dalam botol untuk seseorang yang kusangka juga menaruh perhatian lebih kepadaku, tapi ternyata.. hahaha.. just another ‘GR’ Thing yang sudah mendarah daging, bahkan mengunjungi profil IG ku mungkin tidak dia lakukan, bagaimana bisa saya begitu percaya diri menaruh link surat cinta itu di profil IG, hehhh.... daaasar. Cukup sudah Aldila, kurangilah espektasimu itu. Anyway, jika kita menghitung dari sejak surat cinta itu kita hanyutkan, maka rentan waktu tak menulis yang Aldila lewatkan adalah 8 bulan, belum begitu lama, tapi sudah tergolong malas, tentu saja, punya misi memberikan bacaan yang baik pada dunia, namun 8 bulan tak produktif berkisah, apa-apaan. Walaupun masih sering jurnaling di note hape dan bercuit di twitter tentang keresahan jiwa, tetap saja, perilaku tidak menulis selama 8 bulan tak bisa dibenarkan dan walau sudah punya FB baru untuk menulis caption ala ala senja, takkan mengurangi kadar malas yang terkandung dalam 8 bulan vakum menulis tersebut, hehe.. agak galak yah daku pada diri sendiri. 8 bulan yang panjang, tentu saja, yang takkan habis kutuliskan semalam suntuk, takkan mampu keselami maknanya satu persatu, ada yang datang, ada yang pergi, hilang dan berganti. Namun satu yang pasti, akan kutuliskan hal-hal baik yang terjadi pun hal-hal buruk yang menyiksa hati. Sebab menulis adalah obat mujarab yang tak perlu kutelan untuk memulihkan mentalku yang berantakan. Mungkin akan ku awali dengan kalimat, sudah tidak jaga Awan lagi...
Awanku, Awane... anaknya Ibu, baru menuliskan kalimat ini saja rasanya airmata tak dapat terbendung, begitu banyak yang Awane ajarkan kepada Ibu, Ibu selalu mendoakan Awan sehat terus, selalu ceria, rajin-rajinki makan, nak... Jadi, waktu itu kakakku datang ke rumah, minta tolong untuk jagakan awan, anak ke-2nya kalau dia dan istri sudah masuk kerja normal, yang mana saat itu Awan masih 3 bulan, saya sangat senang, karena saya bukan orang yang gampang percaya orang lain, jadi saat kakak minta tolong saya sangat bersyukur karena anak-anak bisa orang rumah yang pantau, bukan orang lain.
Karena Awan, Ibu yang terbiasa bangun siang jadi bangun pagi-pagi. Karena Awan, Ibu jadi mulai belajar bahwa tidak semua anak suka makan banyak. Karena Awan, Ibu belajar untuk lebih waspada. Lebih sabar, lebih mengerti lagi bahasa lain seorang bayi, Karena Adek Awan sangat berbeda dengan Kakak Galuh. Bahwa tiap anak istimewa, dan punya cara berbeda dalam memahaminya, anak adalah benar titipan yang akan memberikan banyak manfaat bagi orang tuanya.
Awanku suka sekali pisang, suka sekali tidur ditemani, dinyanyikan lagu dolphin dan o mc donald had a farm, suka di tepuk-tepuk kalo mau tidur, diajak bicara, dan sangat mudah dibuat tertawa, tapi jangan dipaksa makan yah... dia akan sangat marah.
Awan sayang, anaknya Ibu,kamu membawa rintik hujan yang begitu menyegarkan jiwaku. terima kasih telah begitu percaya bahwa Ibu adalah orang yang aman menjadi tempat satu-satunya Awan bertumpu dari pagi hingga sore hari, terima kasih karena hanya karena melihat Awan Ibu menjadi sangat terhibur dalam kekacauan perasaan Ibu, yang begitu sulit Ibu utarakan pada orang lain, terima kasih karena Awan tidak rewel saat bersama Ibu, sehingga jam tidur dan waktu makan Ibu pun tidak terganggu sama sekali. Sangat banyak manfaat yang Ibu rasakan saat bersama Awan, bahkan dapat menuliskan perasaan Ibu dalam Laman ini adalah kekuatan yang tersalurkan dari betapa tulusnya Awan tersenyum dikala Ibu merasa begitu tak berarti. Awanku, Aksara Awandini, kamu adalah salah satu penyanggah yang menopang kerapuhanku sebagai manusia, maka tumbuhlah jadi baik, cerdas dan taat dalam agama.
Setahun bersama Awan adalah sebaik-baik pelajaran yang bisa Ibu terapkan dan ambil manfaatnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

hunting story II